Saturday, November 21, 2015

Nasihat Ali bin Abi Thalib

Berkata Ali bin Abi Thalib K.W : "Aku khawatir terhadapa suatu masa yang rodanya akan dapat menggilas keimanan, keyakinan tinggal pemikiran, yang tidak berbekas pada perbuatan..

Banyak orang baik, tapi tidak berakal
Ada orang berakal, tapi tidak beriman
Ada yang berlidah fasih tapi berhati lalai...
Ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian...
Ada yang ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis...
Ada yang ahli maksiat, tapi rendah hati bagaikan kaum sufi..
Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat..
Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat..
Ada yang murah senyum, tapi hatinya mengumpat...
Ada yang berhati tulus, tapi wajahnya cemberut..
Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan..
Ada pezina yang tampil jadi figur...
Ada yang punya ilmu tapi tidak paham..
Ada yang paham tapi tidak menjalankan...
Ada yang pintar tapi membodohi...
Ada yang bodoh tapi tak tau diri..
Ada yang beragama tapi tidak berakhlaq..
Ada yang berakhlaq tapi tidak ber Tuhan..

Kemudian Ali bin Abi Thalib K.W berkata: "Lalu diantara semua itu... aku ada dimana???"

Tandanya seorang yang berakal adalah berfikir dan tandanya berfikir ialah diam. Barangsiapa berbicara yang tak baik maka percumalah ia, barangsiap melihat tapi tanpa mengambil pelajaran, lalai lah ia, dan barangsiapa diam tanpa berfikir, sia-sia lah ia ...

Ketika Ilmu Dikejar

Dan bacalah, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Itulah sepengggal ayat dari surat al-alaq ayat 1. Seakan mengisyaratkan kita untuk selalu membaca agar mendapatkan ilmu dan pengetahuan. Ilmu merupakan cahaya kehidupan bagi umat manusia, karenanya dengan ilmu manusia akan mendapatkan petunjuk yang menjauhkannya dari kegelapan. Ibarat seorang yang mengejar ilmu maka ia mengejar cahaya sehingga jalannya adlah jalan yang jauh dari kegelapan dan dekat dengan keterangan (cahaya).

Dalam konteks apapun ilmu yang kita pelajari, baik itu ilmu science, engineering, technology, social, keagamaan ataupun lain sebagainya. Tetaplah semua itu adalah ilmu. Ilmu yang perumpamaannya adalah cahaya yang mendekatkan kita kepada Sang Maha Pencipta. DariNya lah kita mengetahui apa yang kita tidak ketahui.

Dikisahkan seorang sarjana yang baru lulus dari sebuah universitas sedang mencari pekerjaan. Dalam sebuah interview pekerjaan, ia ditanya, "berapa gaji yang kamu minta?". Ia pun menjawab, "disini saya tidak mencari gaji, tapi jujur disini saya ingin mencari ilmu".  Alhasil singkat cerita ia diterima kerja. Dan benar saja ternyata seharian ia kerja bahkan lembur tanpa digaji, yang dicari hanya ilmu ditempat kerjanya saat itu. 365 Hari sudah dirasa cukup baginya untuk mendapatkan ilmu, akhirnya ia resign dari pekerjaannya dan mulai membangun usahanya sendiri. Singkat cerita gagal sekali dua kali pada akhirnya ia berhasil menjadi seorang pengusaha sukses diusia yang masih muda.

Begitulah, ketika ilmu dikejar, ia tidak perlu repot-repot mengejar rezeki. Karena bukan merupakan sesuatu yang mustahil justru rezeki yang akan mengejar-ngejar dia.

Friday, November 20, 2015

Bisnis dan Goal Akhirnya

Bisnis adalah tentang membangun pribadi akhlakul karimah. Kita kehilangan uang tapi akhlak meningkat, itu lebih bagus. Daripada uang meningkat, tapi kehilangan akhlak. Karena ibadah, ilmu, menikah, lalu harta dll. Semuanya adalah untuk kesempurnaan akhlak, pada akhirnya goal/ tujuan akhir dari semua itu adalah kesempurnaan akhlak. Jadi judulnya adalah berakhlak dengan bisnis.

Bisnis itu bukan perkara uang. Uang itu udah beres aturan mah, ngga akan kemana-mana. Apa yang sudah menjadi milik kita, akan menjadi milik kita, ngga akan menjadi milik orang lain. Apa yang untuk kita ngga akan pernah meleset. Akhlaklah yang menentukan berkah atau tidak. Tugas saya bukan sibuk ngatur rezeki saya. Tugas saya itu sibuk ngatur diri supaya bisa menjemput rezeki saya dengan cara yang berkah.

Ketika sahabat bertanya pada Rasul, "Yaa Rasul kenapa engkau diutus ke bumi?" Rasulpun menjawab "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Akhlak sudah ada tapi belum sempurna. Orang yang sukses, dermawan sudah ada. Tapi suksesnya belum sempurna. Kesempurnaan dari usaha yang dilakukan adalah akhlaklah yang dituju. yaitu tauhid, melakukan semuanya dengan lilahita'ala. Kita mencari rizki untuk orang yang kita cintai. Di dialam semua itu intinya melakukan semua karena Allah.

Karena, dengan kesempurnaan akhlalah masnusia bahagia, dengan kesempurnaan akhlaklah manusia sejahtera, dengan kesempurnaan akhlah manusia mulia, dan dengan kesempurnaan akhlaklah manusia selamat. Jadi jika kita ingin bisnis bagus, segala bagus, maka berlomba-lombalah untuk menjadi orang yang berakhlakul karimah. Maka ketika kita bertemu dengan rezeki kita, kita jauh lebih bernilai dari rizki yang kita dapat. Karena kita benar menjemput rezeki kita, kita bisa mendapt kemuliaan. Itulah hakikat bisnis.

Sikapi Permasalahan

Apakah ada permasalahan yang berbahaya dalam hidup. Sebenarnya, tidak ada permasalahan yang bahaya dalam hidup. Yang bahaya itu adalah ketika kita salah menyikapinya. Tidak ada ujian yang membahayakan pelajar. Pelajar itu tidak lulus ujian bukan karena soal. Pelajar itu tidak lulus ujian karena salah jawabannya. Jadi kalau kita capek, menderita dan sebagainya pasti bukan karena persoalan hidup, bukan karena ekonomi, bukan karena cinta, bukan karena keuangan, bukan juga karena penghinaan dll. Yang ada adalah kita benar tidak menyikapinya. Kita terlalu banyak yang dipikir tapi jarang mikir benar atau tidak menyikapinya. Benar menyikapi masalah itu adalah ketika kita dekat dengan Allah. Dan Allah akan memecahkan masalah kita. Allah akan ngasih tenang ke hati kita, lalu akan dibukakannya jalan keluar dengan diberinya ide dsb.

Lalu inilah yang harus dilakukan:
  • Introspeksi diri : "Sikapku yang mana yang menyebabkan masalah tsb."
  • Batinkan dalam hati : 
    • Semua urusan itu menjadi berat bukan karena urusannya berat. Urusan itu menjadi berat karena tidak ditolong oleh Allah. 
    • Berhentilah beralasan.
    • Sekarang mikirnya bagaimana caranya agar kita menjadi orang yang layak ditolong oleh Allah. Karena perintahnya adalah "Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka baginyalah jalan keluar".



Thursday, November 19, 2015

Apalagi Kalau Bukan Cinta

Melanjutkan tulisan kenapa kita harus menang. Mau dicari kemanapun itu, sesuatu yang bisa bikin kita terus fight ialah jawabannya pasti cinta. Cinta kepada diri kita sendiri, cinta kepada keluarga, cinta kepada pasangan kita, cinta kepada lingkungan kita, cinta kepada pekerjaan, juga cinta kepada pencipta pastinya.

Pengalaman manusia sepanjang sejarah mengisahkan betapa dahsyatnya cinta. Usaha apapun di dunia ini tidak akan sempurna jika tidak berdasarkan cinta. Dan ketika cinta mengilhami manusia maka cinta itu akan bertemu kepada pemilikNya.

Kalau kita melakukan sesuatu karena keinginan semata itulah rational love. Lain ketika kita melakukan sesuatu karena untuk orang yang kita cintai, itulah emotional love. Dan diatas semua itu, kalau kita melakukan sesuatu karena Allah, bekerja bersama Allah, untuk dan karena Allah, itulah spiritual love. Kalau sekedar kerja, kera juga kerja, kalau sekedar makan babi pun makan, manusia mesti lebih daripada itu, begitulah Buya Hamka berkata yang tertulis dalam buku Moeslim Millionaire.

Dan apalagi kalau bukan cinta namanya saat kita bekerja keras 6 sampe 8 jam sehari, kalau semua itu bukan untuk masa depan yang lebih baik untuk orang sekitar kita yang kita cintai. Dan apalagi kalau bukan cinta ketika Nabi Muhammad diutus hanya untuk kesempurnaan akhlak umatnya agar umatnya selamat di dunia juga akhirat. Dan apalagi kalau bukan cinta ketika sejarah besar diukir oleh orang-orang besar yang membawa cinta yang besar di hatinya.

Ketika rational dan emotional love menjadi kemasan kemudian diisi dengan spiritual love maka bukan tidak mungkin tetapi pasti 24 jam kegiatan kita akan dinilai sebagai ibadah. Begitulah apalagi kalau bukan cinta namanya.

Kenapa Kita Harus Menang

Secara umum orang ingin mencapai sesuatu harus berasal dari dirinya sendiri, tidak ada hubungannya dengan siapapun. Kita harus mencari dasar-dasar atau rahasia-rahasia atau hal-hal patokan apapun yang bisa membuat diri kita mampu berdiri sendiri. Tapi bukan berarti kita tidak butuh bantuan dari orang lain. Kita tetap butuh bantuan orang lain. Tapi sesuatu itu harus berasal dari kita sendiri. Motivasi diri pada hakikatnya ada pada diri sendiri.

Diluar itu semua, diri sendiri butuh masukan dari luar, apapun bentuknya untuk mampu memotivasi dirinya. Motivasi itu bisa datang dari mana pun, diantaranya:
  • Termotivasi bangun pagi. Pasti ada ilmu yang mendorong keinginan untuk bangun pagi atau bisa juga tuntutan kebutuhan materi untuk bangun pagi.
  • Termotivasi gigih bekerja, pasti ada alasan kuat untuk gigih bekerja, baik itu kebutuhan hidup atau apapun sebuah cita-cita.
  • Termotivasi disiplin diri, pasti ada yang mendorong untuk disiplin diri, baik itu lingkungan yang mencontoh ataupun ilmu yang didapati.
  • Termotivasi untuk bangkit dari gagal, pasti ada pengetahuan yang meyakinkan atau ada orang yang menguatkan/ mengingatkan untuk bangkit dari gagal/ keterpurukan.
  • Termotivasi untuk ibadah, pasti ada lingkungan yang mencontohkan dan pengetahuan yang menguatkan.
Motivasi diri memang berasal dari diri sendiri, namun butuh faktor luar untuk meyakini diri. Cari sesuatu yang bisa bikin kamu terus fight! Disitulah kamu akan menemukan alasan kalau kamu memang harus fight disitu. Saat kamu harus berkata "menyerah" ingat lah kembali saat pertama kali alasan kamu fight disitu. Itulah kenapa kamu harus menang!

Contact Us

Contact Form

Name

Email *

Message *

Published By Gooyaabi Templates |Powered By Blogger